Kemristedikti Targetkan 1.000 Start-up di 2019

Jakarta – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) menargetkan hingga 2019 lahir 1.000 perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT) atau start-up. Saat ini telah dihasilkan 458 PPBT.

Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Dari program insentif (seed funding) untuk PPBT yang dilaksanakan sejak tahun 2015 hingga sekarang, Kemristek Dikti telah mendukung program pemerintah dengan pencapaian 661 start-up baru. Tahun 2015 Kemristekdikti mendorong 52 start-up, 2016 ada 151 start-up dan 2017 sebanyak 458 start-up atau PPBT. Insentif yang diberikan berkisar Rp 250 juta smapai Rp 500 juta bagi setiap PPBT.

Program PPBT di bawah Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi merupakan salah satu wujud nyata upaya Kemristekdikti untuk melahirkan perusahaan berbasis teknologi di Indonesia.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, hasil riset harus memiliki nilai tambah sehingga dapat menjadi produk inovasi. Produk inovasi yang dihasilkan harus bisa dihilirisasikan ke dunia industri agar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

“Inovasi dibuat tidak hanya untuk diproduksi, namun inovasi juga harus dikomersialisasikan,” katanya di sela-sela Sosialiasi Program PPBT Tahun Anggaran 2018, di Jakarta, Kamis (7/12) malam.

Menristekdikti menambahkan, inovasi merupakan salah satu bagian dari program Nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kepada para peserta sosialisasi program PPBT, Menristekdikti berpesan agar hasil riset dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Riset bukan untuk keinginan peneliti saja dalam mengembangkan inovasinya, namun riset yang baik adalah bisa berguna bagi masyarakat. Inovasi yang tidak bisa dikomersialkan, bukan inovasi lagi namanya,” ucap Nasir.

Melalui insentif PPBT dan inkubasi teknologi, tingkat kesiapan teknologi PPBT didorong ke level 7-9 yang artinya menuju diproduksi massal dengan menggandeng industri. Untuk tahun 2018, Kemristek Dikti menyiapkan insentif PPBT di 2018 mencapai Rp 300 miliar. Diharapkan di 2019 insentif bisa mencapai Rp 500 miliar.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti Jumain Appe mengungkapkan, Kemristek Dikti telah merancang berbagai program dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan inovasi di Indonesia.

Jumain menekankan pentingnya peranan penataan regulasi untuk menumbuhkembangkan perusahaan berbasis teknologi di Indonesia.

“Regulasi juga menjadi poin utama dalam mengembangkan sebuah produk untuk industri. Perlunya dalam program ini menghubungkan antara para inovator industri dan pengambil kebijakan regulator agar proses pengembangan inovasi industri bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Terkait PPBT lanjutnya, bidang yang banyak dimunculkan dari startup adalah pangan, kesehatan dan teknologi informasi komunikasi.

Ia menjelaskan tahun 2017 telah dihasilkan 458 tenant dan calon PPBT. Rinciannya 137 tenant masyarakat umum yang berasal dari inkubator lembaga penelitian dan pengembangan (litbang), perguruan tinggi dan swasta, 116 tenant mahasiswa atau dosen non-PNS yang berasal dari perguruan tinggi dan 205 calon PPBT mahasiswa atau dosen yang berasal dari perguruan tinggi.

Dalam kesempatan itu, sebagai bentuk capaian akhir tahun 2017, empat tenant PPBT melakukan kontrak bisnis dengan investor yakni PT Kimia Farma dan Bank Syariah Mandiri dalam hal pendanaan dan pemasarannya.

Jumain menjelaskan, empat inovasi tenant itu antara lain Nutrilaktasi -inovasi cookies dan minuman siap saji berkhasiat meningkatkan ASI-, Kefir -pelopor inovasi teknologi produksi minuman berbagai varian rasa-, Beras Pratanak -beras berindeks glikemik rendah dan kaya nutrisi untuk penderita diabetes dan diet-, serta Palaboo -minuman fungsional khas Bogor berbasis buah pala-.

Direktur PT Kimia Farma Honesty Basyir memberikan apresiasi atas program dan kebijakan Kemristek Dikti di bidang inovasi.

“Kami selaku pelaku industri berterima kasih telah diberikan kesempatan untuk berkolaborasi dan bersinergi dengan perusahaan startup di tanah air,” ujar Honesty.

Honesty sangat mendukung upaya Kemristekdikti dalam melakukan hilirisasi dan komersialisasi hasil inovasi. Menurutnya, hasil penelitian akan menjadi sia-sia jika tidak didorong menjadi suatu produk yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat banyak.

Mengutip pernyataan Ciputra, lanjut Jumain bahwa idealnya jumlah wirausaha di suatu negara sekitar 2 persen dari jumlah penduduk. Indonesia seharusnya memiliki sekitar 5 juta usaha pemula. Namun diperkirakan saat ini baru memiliki sekitar 3,2 juta usaha pemula.

Leave a Reply

Your email address will not be published.